SINTANG – Pelaku ojek online (ojol) di Kabupaten Sintang menyampaikan surat terbuka kepada pemerintah terkait dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang dinilai semakin membebani biaya operasional mereka. Aspirasi tersebut disampaikan melalui unggahan akun Instagram Oline Media pada Rabu (10/6/2026).
Dalam surat terbuka tersebut, para pengemudi ojol mengaku mengalami peningkatan pengeluaran akibat harus beralih menggunakan Pertamax ketika stok Pertalite tidak tersedia di sejumlah SPBU. Kondisi tersebut dinilai memberatkan karena biaya operasional harian menjadi lebih tinggi, sementara pendapatan yang diperoleh tidak mengalami peningkatan.
“Kami sudah tidak punya pilihan lagi disaat Pertalite kosong untuk pindah ke Pertamax dikarenakan kenaikan yang luar biasa,” tulis pelaku ojol dalam surat terbuka yang diunggah melalui akun tersebut.
Selain mengeluhkan kenaikan biaya bahan bakar, para pengemudi juga menyoroti antrean panjang kendaraan di SPBU yang dinilai mengganggu aktivitas kerja mereka. Waktu yang seharusnya digunakan untuk menerima dan menyelesaikan pesanan pelanggan terpaksa tersita untuk mengantre BBM.
“Yang biasa antre Pertalite di SPBU tidak panjang, sekarang sangat panjang sekali dan mengganggu kemampuan kami dalam menghandle orderan,” lanjut isi surat tersebut.
Pelaku ojol juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap ketersediaan Pertalite di masa mendatang. Mereka menilai apabila kondisi saat ini terus berlanjut, maka BBM subsidi tersebut berpotensi menjadi barang langka dan memicu persaingan antar pengguna kendaraan.
“Pertalite akan menjadi barang langka, dan pasti akan ada war Pertalite,” tulis mereka.
Melalui surat terbuka tersebut, para pengemudi berharap pemerintah, khususnya Pemerintah Kabupaten Sintang, dapat memberikan perhatian terhadap persoalan yang mereka hadapi. Mereka juga mempertanyakan langkah dan solusi yang dapat diambil pemerintah untuk membantu meringankan beban pelaku usaha transportasi online.
“Kami mewakili para pelaku usaha ojol Kota Sintang, khususnya aplikasi OLINE, menyampaikan surat terbuka kepada pemerintah khususnya Pemerintah Kabupaten Sintang. Apakah ada solusi mengenai kenaikan tarif Pertamax?” demikian pernyataan yang disampaikan dalam unggahan tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Kabupaten Sintang terkait aspirasi yang disampaikan para pelaku ojek online tersebut. Namun, unggahan itu telah memicu perhatian publik dan menjadi perbincangan di media sosial mengenai dampak kenaikan harga BBM terhadap masyarakat kecil dan pelaku usaha transportasi daring. (PRD)
